Tukang Cukur Golden Ways

Berdasarkan teori bisnis manapun, sebuah barber shop ndeso yang saya ‘temukan’ kemarin malam jelas mendapat nilai buruk di banyak aspek. Belum lagi urusan digital  marketing, advertising apalagi sisi eye catching dari bisnis yang seharusnya menjanjikan kecantikan dan kegantengan paripurna itu. Semuanya alpa, tak satupun tersentuh atau bahkan sekedar terpikirkan oleh sang owner, sepertinya.

Tapi saya punya kabar baik. Selain kulit manggis kini sudah ada ekstraknya, barber shop itu juga sudah mengajarkan prinsip paling luhur dalam dunia pengejaran rejeki. Continue reading

#KorbanBlogger; Dari Keripik Bawang hingga Bis Patas

Tergopoh-gopoh saya menuju lift sambil terus mengecek smartphone, membalas chat seorang kakak yang 5 menit sebelumnya mengabarkan kalau beliau sudah di lobby, menunggu saya. Jarak lantai 5 menuju lobby memang  hanya butuh waktu kurang dari 10 menit, tapi tetap saja terasa lama karena bahkan sejak sepuluh hari sebelum hari itu kami sudah janjian untuk bertemu. Itu adalah pertemuan ke sekian kami yang unik, karena mayoritas pertemuan kami adalah di event. Entah gathering blogger, wisata bersama, dan seterusnya.

Hari itu saya sedang berada di sebuah apartment di Jalan Mayjend Sungkono, Surabaya, si Mbak sudah menyambut hangat ketika saya keluar dari lift. Kami mengobrol kesana kemari, masih di lobby, mbak berwajah teduh itu tak lupa membawa beragam buah tangan. Selalu begitu, di hampir setiap pertemuan, saya bagi beliau tetap saja adik kecilnya yang tak pernah absen diberikan ini itu, sepertinya. Selalu gupuh membawa apapapun, yang semuanya selalu memang hal-hal kesukaan saya. Entah buku, makanan, apa saja. Continue reading

Rengginan Mak’e

​atas nama efektifitas dan efisiensi, saya kerapkali menyarankan Mak’e agar membeli rengginan mentah di pasar daripada membuatnya sendiri. Selain butuh waktu lama, saya sudah pasti absen membantu karena Mak membuatnya di pagi hari, saat saya sibuk memfoto meja kerja dan update status sambil pencitraan. Pagi tadi tumblr seorang rekan kerja yang rajin bawa infused water jadi sasaran.

Kembali ke rengginan.

Bukan Mak nya winwin kalo nggak teguh pendirian. Beliau akhirnya tetap membuatnya sendiri. Meja makan kami sudah berpindah ke halaman belakang ketika saya pulang dari sekolah, dan puluhan rengginan cantik berwarna merah muda berbaris rapi di atasnya.
Membuat rengginan sendiri bukan sekedar urusan ekonomis. Bahkan mungkin lebih murah kalau beli yang sudah siap goreng di pasar, sih. Tapi demi rengginan cantik itu, beragam cerita hadir. Dan itu tidak bisa didapat dengan pergi ke pasar-beli rengginan-pulang-goreng-hidangkan.

Dimulai dari Mak’e yang hendak membeli pewarna makanan di warung. Itu lho, pewarna yang ada gambar wayangnya, harganya sangat murah tapi warnanya sangat cerah, belilah satu sacher niscaya Anda bisa mewarnai air segalon. Mungkin memang bagus, mungkin juga ada campuran pewarna tekstil di dalamnya, tapi mulai rengginan hingga tape, Mak dan semua ibu-ibu kampung selalu memakainya. Dan kami semua alhamdulillah baik-baik saja.

Singkat cerita, pewarna ajaib itu sudah sold out. Tak tersisa satupun ketika Mak hendak membeli. Si Mbak pemilik warung lalu bercerita jika pembeli terakhir adalah salah seorang tetangga, jeda satu rumah saja dari rumah saya. Ndilalah Mak bertemu dengan beliau, yang akhirnya justru memberikan sisa pewarna makanan yang nggak habis, beliau sudah selesai membuat rengginan.
Tak hanya itu, Mak’e juga dapat rejeki Pisang Mas, dikasih juga sama si tetangga tadi. Udah dikasih pewarna, dapat pisang pula. Kan warbiyasa.

Masalah pewarna selesai. Mak’e dengan tangannya sendiri memproses ketan hasil dari panen musim ini menjadi bulatan-bulatan cantik itu. Dengan warna pas, dengan ukuran tepat. Nggak terlalu besar, nggak terlalu kecil. Saya cuma kebagian tugas mengangkatnya setelah dijemur seharian, itupun belum kering jadi besok harus dijemur lagi.

Terlihat ribet?

Sama sekali tidak. 
Iya, membuat rengginan sendiri memang butuh waktu lebih lama dan tenaga lebih ekstra, tapi justru dari waktu tidak sebentar itulah rengginan Mak jadi lebih kriuk. 
Dari rengginan, Mak mengajarkan bersosialisasi, saling memberi, bersyukur atas panen sawah kami, kesabaran dan tentu saja ingin mewariskan cara membuat rengginan yang maknyus, yang sayangnya belum saya kuasai sampai sekarang.

Apalagi rengginan ini disiapkan untuk acara Nyadran. Saya akan cerita lebih lanjut tentang ini di postingan lain. Yang jelas, membeli sesuatu jelas akan jauh lebih simple dan mudah daripada membuatnya sendiri, tapi ada hal-hal tertentu yang hanya bisa diperoleh dari membuatnya langsung. Seperti rengginan Mak’e tadi.

Ohya, yang mau merasakan rengginan Mak, monggo singgah kesini saat Nyadran nanti, ya🙂

Turnamen Futsal dan Para Pemuda Mental Tempe

Mungkin memang publik harus menunggu sampai mbak Anggun jadi duta shampo lain kalau mau melihat lapangan futsal dusun Piji menjadi sebuah lapangan permanen berkelas internasional. Tentu saja lengkap dengan mini market dan mbak-mbak yang rajin nawarin pulsa atau promo deterjen.

wp-1472863112716.jpeg

Kabar baiknya, cah Piji memang rata-rata bermental tempe. Iya, termasuk saya. Tapi jangan salah, mental tempe ini sama sekali bukan mental menye-menye ala FTV atau penonton bayaran acara musik.

Continue reading

Agustus; Saatnya Pulang dan Tertawa

“Anak saya jadi pengibar bendera, saya diundang ikut upacara, Mbak” 



Pak Samsul dengan bangga menceritakan anaknya sambil meliuk-liuk membelah kemacetan Kota Pahlawan. Beliau adalah driver Go-Jek yang mengantar saya ke Terminal Bungurasih hari itu (17/08).
Kalimat yang mengingatkan saya pada obrolan di group whatsapp beberapa waktu sebelum pak Samsul menjemput, plus kiriman foto-foto Upacara Detik-detik Proklamasi di kampung saya, Margomulyo.

Foto-foto yang sukses membuat saya baper, apalagi saat menyanyikan lagu Tanah Airku bersama ratusan peserta Pembekalan Instruktur Nasional Guru Pembelajar Bahasa Inggris SMA/SMK. Mendadak homesick gitu, deh.

Sepuluh hari penuh saya mengikuti kegiatan bergengsi itu, walau berangkat dalam keadaan flu berat plus linu tak karuan di sekujur tubuh.

Begini sebabnya…

Continue reading

Terima Kasih Pak Anies Baswedan

​Adalah pak Anies Baswedan yang suatu hari membuat saya terlibat adu argumen dengan salah satu dosen ter-killer di kampus. Sederhana saja, saya hendak mengajukan ijin untuk mengikuti sebuah talkshow bersama pak Anies di Jogjakarta. Pak dosen yang adalah ketua pelaksana Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) menolak permohonan saya mentah-mentah. Bagaimana tidak, PPL baru dimulai beberapa hari sebelumnya dan saya sudah berani-berani nya ijin? Cuma untuk ikut seminar atau apa lah itu sebutan nya? Helloow.. no way! Kata beliau. 

Saya tidak diijinkan.

Tapi saya nekat.

Kabur.

Pagi-pagi buta bersama dua orang rekan, saya menumpang bis Antar Kota Antar Propinsi menuju kota gudeg. Menyimak langsung pak Anies berorasi dan menjelaskan dengan gamblang tentang mimpi-mimpi beliau, tentang Indonesia, tentang turun tangan dan tentang Indonesia Mengajar adalah sebuah kesempatan mahal. Tak peduli walau saya harus ‘berurusan’ dengan sang dosen killer se kembalinya dari Jogja.

Maka hari itulah saya, bersama ribuan mahasiswa dari berbagai kota, dibuat takjub oleh orasi pak Anies yang as usual, selalu memikat. Saya yang telah mengikuti catatan-catatan beliau di dunia maya, semakin tertampar-tampar dengan berbagai pertanyaan retoris “Apa yang sudah kamu lakukan untuk negerimu?” 

Pulang dari Jogja, reflek saya nyeletuk, semoga suatu saat pak Anies jadi menteri pendidikan. Pendidikan Indonesia butuh orang-orang yang mampu membuat proses ini menjadi sebuah gerakan, bukan perintah apalagi jajaran program semata. 

Maka kisah akhirnya bisa ditebak dengan mudah. Saya semakin semangat stalking hampir semua status dan video Indonesia Mengajar (IM), segera khatam membaca bukunya tak lama setelah datang dari toko buku online, serta menyelipkan Indonesia Mengajar sebagai salah satu mimpi terbesar saya, kala itu.

Banyak hal membuat saya tak jadi mengambil jalan itu. Tapi semangat Indonesia Mengajar tak pernah lepas dari cita-cita saya. Maka jika akhirnya saya mulai merintis Margomulyo Youth Movement, ikut Kelas Inspirasi, menggagas Gerakan Margomulyo Menginspirasi (bahkan membukukan ceritanya), salah satu inspirasi terbesar saya adalah pak Anies.

Terima kasih, pak Anies.
20 bulan pak Anies dengan berbagai cara mencoba membawa pendidikan Indonesia ke tujuan yang pernah bapak ceritakan pada saya dan ribuan mahasiswa siang itu. Puluhan bahkan ratusan naskah sambutan pak Anies selalu dengan diksi menawan dan membuat pendengar, setidaknya saya, tak bosan menyimak walau berlembar-lembar banyaknya dan sering dibaca dengan intonasi ala kadarnya oleh inspektur upacara.

Terima kasih telah membuat saya bolos kuliah demi bertemu bapak (juga Ayahanda bapak), terima kasih atas pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya gemes ingin ikut #turuntangan.

Alhamdulillah nilai PPL saya kala itu tetap A, pak. Alhamdulillah saya nggak jadi daftar IM dan justru kembali ke kampung halaman. Dan alhamdulillah, saya masih mengingat bahkan membawa semua semangat IM sampai sekarang dan seterusnya, insyaAllah.

Terlepas dari kesalahan atau kekurangsempurnaan bapak menjalankan tugas, setidaknya jika ada yang bertanya adakah yang terinspirasi dengan apa yang telah bapak lakukan selama ini, saya akan ada di barisan ribuan entah jutaan orang yang mengacungkan tangan.
Terima kasih, pak Anies.

​Belajar Open Minded dari Haters. Emang Bisa?

Open minded people are the best kind of people to be around, begitu quote dari salah satu akun yang saya follow di instagram beberapa hari lalu. Saya setuju. Sangat setuju.

Sampeyan juga toh?


Mau bagaimanapun juga, punya teman kerja, tim, atasan, tetangga atau teman ngobrol yang open minded akan jauh lebih menyenangkan daripada orang-orang yang sekedar cerdas. Orang yang cerdas, hafal isi kamus atau bisa mengerjakan soal Matematika paling susah dalam waktu dua menit misalnya, kalau nggak open minded ya biasanya nggak akan nyaman diajak diskusi. Mirip sama orang yang kurang piknik atau kurang selfie.


Eh tapi, open minded itu apa toh? Wis ngerti durung sampeyan?



Kalau kata Urban Dictionary nih, Open mindedness is when even if you think you are right, you know that you can be wrong and are always willing to listen to and hear an opposing or contradictory view.

Open minded people have views but know that their views do not have to be held by everyone. Open minded people also know that their views can be wrong.
Mudeng to, Jon? Kalo nggak mudeng bisa japri atau PING!!!

Intinya kalau kamu selalu merasa saklek, paling bener, nggak mau denger perspektif baru, nggak mau “put yourself in others’ shoes” ya berarti kamu nggak open minded. Bahasa kerennya narrow minded.

Lalu apa kabar orang-orang Koleris garis keras macam saya ini? Nggak bisa open minded dong?

Continue reading

​Tidak Ada Sigit Pagi Ini

#HariPertamaSekolah tahun ini agak berbeda dari tahun tahun sebelumnya. Para orang tua diminta mengantar putra-putrinya bahkan mengikuti rangkaian pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), istilah baru untuk Masa Orientasi Siswa (MOS).

Orang tua dan pihak sekolah diminta lebih intens berkomunikasi, lebih akrab, lebih mengeluarga. Begitupun rangkaian MPLS yang harus menghapus semua bentuk perpeloncoan, sudah disounding luar biasa gencar sejak beberapa waktu yang lalu. Belum lagi para pemangku wilayah yang juga diminta turun langsung ke sekolah dan ikut menyambut siswa baru. Pak Anies bahkan membuat Iklan Layanan Masyarakat tentang #HariPertamaSekolah di televisi. Tentu saja dengan diksi menawan, as usual. Juga aneka poster dan infografis menarik yang berseliweran di dunia maya. 

Bagaimana dengan Margomulyo? Apa kabar kemungkinan 4% anak lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ke SMP? Juga belasan anak lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA?

Penyambutan #HariPertamaSekolah hari ini cukup meriah. Ada spanduk besar di halaman SMPN 1 Margomulyo. Bapak camat menjadi pembina upacara, seluruh orang tua siswa baru diminta hadir ke sekolah. Hal serupa juga terjadi di SMKN Margomulyo. Wajah-wajah berbinar menghiasi delapan belas juli, menandai semangat sekolah. 

Sama semangatnya dengan adik saya yang bahkan sejak semalam udah nggak sabar ingin segera kembali ke sekolah. Mungkin jenuh dengan liburan yang terlalu lama sejak ujian kelulusan sehingga excited balik ke sekolah. Atau karena kemarin handphone nya yang rusak sudah saya service-kan maka aura wajahnya bahagia banget. Beda tipis.


Saya bertemu Yasin pagi ini. Dia menjadi ketua kelompok saat games penutupan Gerakan Margomulyo Menginspirasi di sekolahnya, SDN Margomulyo 4. Saya hafal benar wajahnya karena saat main games, dia yang paling aktif unjuk diri. Hari ini dia rapi sekali, sempat toss dengan saya sebelum menghambur ke kerumunan teman-teman barunya yang lain.
Saya juga bertemu Ega. Gadis cilik cerdas yang beberapa bulan lalu rajin ke rumah saya minta diajari membaca dalam bahasa inggris karena hendak menjadi kontingen lomba tingkat kabupaten. 

Begitu pula Bima dengan senyumnya yang menawan. Saya memboncengnya saat berangkat dan melihatnya bahagia ikut berbaris rapi diantara ratusan siswa baru. Alhamdulillah. Semangatnya mengingatkan saya pada kisah Hari Baru untuk Bima. 
Ohya, saya juga melihat Agung. Atlet berbakat ini sempat mogok sekolah beberapa minggu saat kelas VI SD. Bahkan kegiatan Gerakan Margomulyo Menginspirasi tak cukup membuatnya tertarik, dia tak datang ke sekolah hari itu. Bujukan wali kelas dan kepala sekolahnya juga tak mempan. Syukurlah ada satu orang yang bisa menaklukkannya. Berhasil meyakinkan agar dia mau masuk sekolah lagi. Dia bahkan ikut perlombaan atletik dan menjadi juara. Bapaknya pun luar biasa semangat menyekolahkannya ke SMP. Hari ini saya lihat dia tertawa-tawa dengan teman-temannya.

Saya ingin melihat Sigit, sebenarnya. Bahkan sempat mengedarkan pandangan sembari memfoto ratusan anak yang berbaris masih dengan seragam merah putih. Siapa tahu ada Si Tangguh itu diantara mereka.

Saya juga ingin melihat Sriatun, tetangga Yasin yang katanya nggak bisa sekolah karena ibunya sakit dan dia harus menjalankan semua pekerjaan rumah seorang diri. 

Atau… Wito. Satu-satunya teman sekelas adik saya yang katanya tidak melanjutkan dan tiada kabarnya hingga hari ini.

Apa kabar mereka bertiga? Juga anak-anak lain yang tidak ingin melanjutkan sekolah ketika kami tanya?

Saya tidak tahu bagaimana ending semua kisah mereka. Yang sempat saya samperin hanya Sigit, itupun belum jelas keputusan akhir nya. Bapaknya justru bercerita bahwa ada tetangga yang megajaknya kerja di Jakarta. 

Bagaimana Sriatun yang katanya setiap pagi harus mencari kayu bakar di hutan? Atau Wito yang bahkan di hari pembagian SHUN sudah tidak datang ke sekolah?

Atau, bagaimana kisah belasan lulusan SMP yang sebelum puasa pun katanya sudah mulai ada yang bekerja? Belasan anak yang membuat saya sungguh bersumpah tidak akan pernah merasa hebat itu? (Baca kisah mereka disini buat yang belum tahu.)

Dan kabar buruknya, Saya tidak tahu sama sekali bagaimana kabar mereka😥

Yang saya tahu, saya tidak melihat wajah Sigit yang sangat saya hafal. Diantara ratusan wajah penuh semangat siswa baru SMP N 1 Margomulyo, tidak ada tubuh tingginya yang biasa penuh peluh selepas panen jagung di ladang.

Apakah dia melanjutkan ke sekolah di kecamatan sebelah yang lebih dekat dengan rumahnya? Semoga saja.
Apakah dia akhirnya memilih bekerja ke ibukota? Mungkin saja.


Yang jelas saya tidak menemukan wajahnya pagi ini.
 Juga wajah Sriatun atau Wito, dan adik-adik lain yang menggeleng ketika ditanya hendak melanjutkan sekolah atau tidak.


Bertemu dan mengetahui cerita lika liku pendidikan dan keluarga mereka bukanlah hal yang saya rencanakan. Bukan hal yang saya cari dengan sengaja. Bukan kenyataan yang ingin saya lihat sebenarnya. Karena saya membayangkan kondisi ‘baik-baik saja’ selama ini. Tapi ternyata, fakta-fakta itu begitu saja terhidang dalam perjalanan emosional 9 minggu di 20 sekolah dasar se-kecamatan Margomulyo. Gerakan Margomulyo Menginspirasi.

Perjalanan yang secara langsung hanya saya ikuti sebagian nya saja, itupun bukan dalam waktu berurutan, namun cukup menjadi alasan bagi saya untuk mendapat teguran dari atasan.

Perjalanan yang bagi sebagian orang tak berarti apa-apa dan hanya buang-buang waktu, tapi sungguh perjalanan itu membuka banyak hal, menguak banyak cerita yang selama ini menguap begitu saja. 
Biarlah. Biar orang berkata apa. Biar komentator menilai apa. Yang penting sekarang adalah bagaimana nasib anak-anak Margomulyo, berusia dua belas hingga tiga belas tahun, yang karena keadaan harus begitu saja melupakan kesempatan bersekolah? Yang hari ini tidak ikut dalam euforia #HariPertamaSekolah?

Kira-kira, bagaimana perasaan ayah Sigit menyaksikan tetangganya mengantar sang anak ke sekolah barunya sementara beliau mungkin saja harus mengantar anaknya ke stasiun atau terminal tempat Sigit akan berangkat ke ibukota?
Semoga saja tidak begitu adanya.

Kira-kira, bagaimana perasaan Sriatun yang hendak mencari kayu bakar ketika berpapasan dengan kawannya yang memakai seragam rapi, bersepatu, menggendong ransel, berjalan mantap menuju sekolah?
Semoga dia tidak menangis pagi ini.

Kira-kira, bagaimana perasaan Wito melihat tetangganya berangkat sekolah, sementara berapa nilai ujian nya saja dia tidak tahu?
Semoga hari itu dia tidak datang bukan karena tidak ingin sekolah.

Kira-kira, bagaimana perasaan gadis berbakat langganan juara lomba yang menangis di hadapan saya beberapa minggu yang lalu itu? Apakah pagi ini, dia melihat status dan foto selfie teman-temannya di sekolah baru sambil mengerjakan perintah majikan?
Kabar buruknya, saya tidak tahu sama sekali bagaimana delapanbelas Juli mereka hari ini.

Ah,
sebenarnya yang lebih penting daripada menebak perasaan mereka adalah, kira-kira, apa yang masih bisa kita lakukan untuk mereka?

Karena, sungguh… saya tidak melihat Sigit pagi ini. Begitu pula Sriatun dan Wito.

(*)
Piji, 18 Juli 2016.

ditulis sembari menangis mengingat wajah-wajah mereka ~