Sebelumnya saya telah menulis artikel tentang apa saja yang saya dapat dari #WGISemenIndonesia disini. Kalau tulisan itu adalah versi ‘utama’ catatan perjalanan ke Tuban, maka artikel ini ibarat acar yang melengkapi mie ayam agar maknyus. Atau puluhan member JKT48 yang nggak kalah capek nyanyi dan nge-dance walaupun yang terkenal cuma Nabila dan Melodi #apaseh. Intinya ini sekedar versi ‘dibuang sayang’ dibalik perjalanan keren itu. Mau tau? Mau tau aja atau mau tau banget? Mau tau kan? Mau tau dong? Mau tau siih? #maksa

Hmm, susah juga mau memulai tulisan ini dari mana. Secara saya sudah membayangkan, memimpikan, memikirkan, mengimajinasikan dan mengidamkan (hamil keleus ngidam!) acara ini sejak pertama kali mendaftar kurang lebih seminggu sebelum acara. Adalah mbak Dwi Permitasari, seorang bunda cantik cantik cantik *Syahrini mode on* yang berbaik hati memberi saya info mengenai event keren yang satu ini.

Sahabat-sahabat baru dari #WGISemenIndonesia :)
Sahabat-sahabat baru dari #WGISemenIndonesia 🙂

Disinilah perjuangan mendapat satu kursi untuk event ini berawal. Sebagai orang yang aktif dan penuh inisiatif alias ngebet banget pengen ikut, saya langsung meng-sms contact person acara ini beberapa menit setelah melakukan registrasi online. Hampir bersamaan dengan notifikasi Facebook yang saya terima, saat itulah balasan sms yang bikin jantungan itu masuk: kuota peserta sudah penuh!

Deng dong! Tahukah Anda bagaimana rasanya ketika baru saja mendaftar untuk sebuah event dan dinyatakan kuota sudah penuh? Sama seperti ketika kamu udah naik motor jauh-jauh ditambah hujan lebat selama perjalanan dan kamu nekat karena nggak punya mantel hanya demi ketemu dia, ternyata dia nggak dateng. Sakitnya tuh disini! *kemudian joget joget*. Untunglah di belakang kalimat ‘kuota sudah penuh’ itu ada embel-embel ‘blogger aktif akan diprioritaskan’. Maka mulailah strategi personal branding tingkat dewa alias promosiin blog sendiri pada panitia berjalan. Dan Alhamdulillah it works, Alhamdulillah beberapa hari berselang akhirnya kesempatan menempati satu kursi di Wisata Green Industry Semen Indonesia sudah ditangan. Uh yeaah!

Perjuangan belum berakhir, sejak tiga hari sebelum hari-H saya harus sudah melobby kepala sekolah agar mengijinkan pegawainya yang baik hati dan tidak sombong ini agar bisa ikut event kece itu. Karena hari itu kegiatan class meeting sedang berlangsung, dan saya selaku Pembina OSIS adalah salah satu penanggung jawab acara. Ijin di tangan, tinggal memikirkan bagaimana caranya bisa sampai di meeting point (Lamongan) jam 07.30 hari Sabtu.

Perjalanan dimulai jam 3.30 pagi. Bukan ketika saya meluncur ke Lamongan melainkan ketika meluncur ke kamar mandi #apaseh. Dari rumah saya di Margomulyo-Bojonegoro, saya harus berganti angkutan sebanyak dua kali untuk sampai di Stasiun Lamongan. Pertama dengan bis Ngawi-Bojonegoro hingga terminal, dilanjut bis Bojonegoro-Surabaya sampai stasiun. Perkiraan saya perjalanan itu bakal butuh waktu sekitar 10.876 detik (silakan hitung sendiri berapa jam!). Maka saya sudah berdiri anggun di pinggir jalan raya jam 4 pagi, berharap bisa sampai stasiun Lamongan jam 7 pagi, 30 menit sebelum penjemputan. Nyatanya gayung tak bersambut, entah sopir bis pada bangun kesiangan atau saya yang memang sedang kurang beruntung, bis yang biasanya jam 4 pagi sudah banyak beredar di jalan, pagi itu baru bisa saya temui hampir jam 4.30. Huhuu, mepetoz bangetoz!

Nggak sampai situ saja, bis yang biasanya jago balap, nggak tau kenapa pagi itu leletnya minta ampun, pake acara ngetem sesuka hati pulak! Alhasil saya baru sampai terminal Rajekwesi Bojonegoro jam 6.45, terlambat 1 jam 15 menit dari rencana semula, dan hanya tersisa waktu 45 menit untuk sampai Lamongan! Senam jantung nggak tuh?!

Ketika naik bis besar Bojonegoro-Surabaya, langsung saja saya memilih tempat duduk paling depan tepat dibelakang sopir. Bukan, bukan untuk ngecengin pak Sopir kok. Gue nggak se-modus itu keleeus! Pertanyaan pertama saya pada pak sopir adalah, “Pak, Bojonegoro-Stasiun Lamongan bisa sampai dalam waktu 1 jam ndak?” (itupun sudah telat 15 menit kalau perjalanannya satu jam). Saya sih berharapnya si Bapak ini punya track record jadi sopir bis Sumber Selamat atau Sugeng Rahayu biar bisa diandalkan. Tapi jawaban beliau membuat saya lemas seketika: “Walah nggak bisa, Mbak. Paling cepat 1,5 jam itupun kalau lancar. Dua hari ini agak macet, mungkin bisa lebih”. Wakwaaw! Tau rasanya berharap banget dapet hadiah di hologram tapi ternyata setelah digosok tulisannya COBA LAGI kan? Persis!

Mulailah saya heboh sms panitia tiap 15 menit sekali. Intinya memohon agar tidak ditinggal. Saya bayangin Mas Rono (panitia yang selalu saya sms) sampe bosan baca sms saya saking seringnya. Maap yah, Mas!. Ya coba bayangin aja, jam 7.30 ketika seharusnya saya sudah sampai stasiun Lamongan, saya baru sampai Babat! huhu, masih butuh waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai Stasiun, tergantung kecepatan bis. Saya sudah pasrah, nggak mungkin juga mau ganti angkutan karena bis termasuk salah satu yang paling cepat (dan hemat). Konfirmasi terakhir panitia, saya akan ditunggu, tapi ketika waktu terus beranjak dan saya belum juga sampai stasiun, rasanya pengen nyetirin sendiri bisnya! huh!

Asli senam jantung tingkat dewa, bisa dibayangin dong gimana sedihnya saya kalau udah semangat banget dari jam 4 pagi (bahkan dari jauh hari ketika baru pendaftaran) dan saya batal ikut #WGISemenIndonesia cuma gara-gara telat? Duh, jangan sampaaaai 😦

Alhamdulillah, sampai di Stasiun Lamongan jam 8 lebih dan belum telat! Sesuatu banget! Kalau biasanya saya ‘mengutuk’ keterlambatan, kali ini saya berterima kasih bis penjemputan dari Semen Indonesia agak telat menjemput sehingga walau saya telat sekian puluh menit, ternyata bis yang kaan membawa rombongan kami belum datang. Baru sekitar 10 menit setelah saya menunggu, bis nya datang. Alhamdulillah.. Allahu Akbar.. Emang konspirasi alam ini namanya. Kalau sudah rejeki bisa melakukan perjalanan, apapun halangannya (insya Allah) bakal tetep terwujud juga.

Perjalanan dilanjutkan ke galeri UKM R n D di Lamongan kota. Wawancara singkat plus jeprat jepret sana sini dan narsis ria tentu saja. Di bis sendiri saya jadi satu rombongan bareng teman-teman dari Blogger Bojonegoro, Blogger Lamongan, Blogger Madura dan beberapa peserta masyarakat umum. Walau masih terbawa suasana senam jantung sebelum naik bis penjemputan, saya nggak repot-repot nyari tiang listrik atau pohon mangga buat nyanyi india biar nggak stress kok, tenang aja. Mulai detik ketika bis penjemputan itu berjalan, mulai saat itu juga seluruh energi, konsentrasi dan antusiasme saya full buat Semen Indonesia. Cieeeeeee, hajar bleh!

(BUKAN) saya :(
(BUKAN) saya 😦

Selanjutnya perjalanan ‘utama’ ke pabrik Semen Indonesia di Tuban. Dengan persenjataan lengkap (helm, masker), kami dibawa keliling pabrik. Mirip syuting Laptop Si Unyil gitu deh, cuma bedanya nggak pake bawa-bawa boneka segala. Dan walau sudah pernah melihat dari dekat beberapa pabrik, tetap saja saya gumun ketika masuk. Secara nih ya, bangunan pabrik yang mirip tabung raksassa segede gaban menyambut kami. Belum lagi tungku pemanas (yang juga berukuran raksasa!) atau disebut Kiln yang nggak kalah cetar membahana. Ini tentu jadi objek foto juara dong, dan ketika saya coba foto di depannya, terlihat seperti semut lagi foto bareng kecoak. Kecil bingiiit!

nah kan :D
nah kan 😀

Ke-gumun-an selanjutnya adalah ketika masu ke ruang Central Control Room. Barisan layar komputer dan layar CCTV dari seluruh penjuru perusahaan. Bayangkan aja pabrik seluas entah berapa kali luas lapangan sepak bola (maaf pemirsa, saya waktu itu lupa nggak bawa meteran jadi nggak sempet ngukur luas pabrik. Maaf ya!) dikendalikan melalui klak-klik dari ruang operator. Mantaaap! Gue juga bisa tuh kayaknya jadi operator, tinggal klak-klik mouse kok kerjanya. Gampang laah, dua minggu belajar pasti bisa! *siap digampar operator Semen Indonesia*

Puas keliling pabrik dan tanya kesana kemari, lanjut ke acara keren selanjutnya. Yaitu… makan! Hehe. Ya iyalah, abis capek-capek keliling pabrik paling enak makan bareng dong, apalagi kalau makannya sambil satu meja sama teman-teman dari berbagai kota. Makin ahzeeeeg!

Keliling pabrik sudah, makan sudah, saatnya diskusi seru bareng jajaran direksi Semen Indonesia. Kita dikasih pemaparan detail tentang sejarah Semen Indonesia, program-program CSR, rencana pembangunan pabrik di Rembang, dan sebagainya. Secara garis besar sudah saya tulis disini. Intinya kami diberi pemaparan sekaligus diijinkan untuk bertanya apapun tentang Semen Indonesia. Termasuk kritik pembangunan pabrik baru mereka di Rembang yang menjadi topik terhangat kala itu. Akhirnya kami semua mendapat penjelasan rinci dan detail tentang rencana tersebut termasuk analisa dan pertimbangan perlindungan lingkungan yang sangat matang.

Acara ditutup dengan bagi-bagi doorprize untuk para penanya dan pemenang lomba livetweet. Bisa tebak dong saya menang lomba yang mana? Jelas bukan lomba makan kerupuk karena saya lupa nggak ngambil kerupuk pas makan siang, dan baru sadar ketika mas-mas catering bawa sisa kerupuk setoples keluar ruangan setelah kami semua makan. Dalam hati saya cuma bisa berharap waktu berputar kembali dan saya bisa balik ke masa lalu biar bisa jadi salah satu aktor pemakan kerupuk-kerupuk itu.

Tapi ah sudahlah, hadiah lomba ngetweet lebih menggiurkan daripada kerupuk. Maka ketika nama saya dipanggil sebagai salah satu pemenang, rasanya dalam kepala langsung ada backsound lagu We are The Champion nya Queen berpadu sama Darah Muda-nya bang Haji Rhoma Irama. Biarin nggak nyambung, yang jelas saya sueneeeeng! Ceritanya beberapa bulan terakhir ini saya lagi berduka karena flash disk kesayangan sekaligus andalan saya tiba-tiba hank dan semua file saya disana raib (sakitnya tuh disiniiii!), sangat berduka sampai-sampai saya trauma beli flash disk baru (bilang aja gak punya duit!) dan berharap ada flash disk turun dari langit. Dan tahukah Anda? Konspirasi alam ke seribu tujuh ratus enam puluh tiga yang saya alami hari itu adalah saya mendapat harddisk eksternal dengan memori sebanyak 500GB GERATIS dari Semen Indonesia. Huwaaaa! Terjawab sudah kenapa saya belum juga punya rejeki buat beli flash disk, kalau rejeki nggak akan kemana pokoknya. Alhamdu? Lilllaaah…

Selesai acara inti dan puas berfoto ria, saatnya pulang. *siapin tissue* *bukan buat elap air mata* *tapi buat elap minyak di wajah yang kalo diperes dapet setengah liter*. Kami pulang, dan saya jadi satu-satunya peserta yang menyelinap dengan sukses ke bus yang akan berhenti di Surabaya (padahal ketika berangkat saya naik bis di penjemputan Lamongan). Hihi. Apalah daya, lewat Surabaya adalah satu-satunya cara biar saya bisa pulang. Karena kalau lewat Lamongan dan Bojonegoro lagi, dipastikan saya musti nginep buat nungguin bis Bojonegoro-Ngawi lewat keesokan harinya.

Akhirnya kami sampai terminal Bungurasih Surabaya jam 10-an malem, waktu yang kritis untuk nggak tidur. Meski mata tinggal 5 watt, saya harus mengumpulkan kesadaran untuk mencari mushola terminal Bungurasih. Sholat, makan (terlalu) malam, dan akhirnya duduk manis di bangku paling depan bis Sumber Selamat. Ini semacam menantang perkara, duduk paling depan di bis Sumber Selamat di malam hari adalah semacam garansi untuk nggak bisa tidur nyenyak karena musti ngerasain dan ngeliat langsung sopir bis beraksi bak aktor Fast and Furious. Tapi dasar saya lola, tetep aja tidur sepanjang perjalanan. Keberuntungan saya yang terakhir hari itu adalah saya nggak tertidur ketika masuk kabupaten Ngawi, tempat saya turun. Jadilah jam 3 pagi saya sudah bisa bobok cantik di kasur rumah ibuk Ngawi, tepat 23 jam setelah keberangkatan saya di hari sebelumnya. Alhamdulillah.

Terima kasih Semen Indoneesia, nggak rugi kok 23 jam hampir keliling Jawa Timur demi ikutan #WGISemenIndonesia. Terima kasih buat hadiahnya, tapi saya pengen curhat lagi nih, foto-foto di HP saya nggak maksimal dan kurang kece kalau buat dipasang di blog, soalnya kamera HPnya kurang sip gitu deh, posting artikel ini juga kalah cepet sama yang lain gegara kalah gadget, lho. Jadi kalau misal saya bisa dapet Lenovo S650 dari lomba nge-blog yang kalian adain ini, dijamin tugas bikin reportase tentang #WGISemenIndonesia edisi berikutnya bakal lebih baik dari ini. Tau dong maksud saya? Ya gitu deh, you won’t dissapointed kok. Mihihi.

Bravo Semen Indonesia! Sudah tau alamat rumah saya buat ngirim hadiah kan? #eh

The End *nutup panggung cerita* *berdoa di kamar* .

Advertisements